ECHA JIE KOWDONG......BUKAN JIE SAPA2...

Rabu, 25 Juli 2012

Bulan Ramadahn

Bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyyah. Sepanjang bulan ini pemeluk agama Islam semakin intens melakukan serangkaian aktivitas keagamaan. Berpuasa, shalat Tarawih, menggelar peringatan turunnya AI-Qur'an, mencari malam Lailatul Qadar, memperbanyak membaca AI-Qur'an, dan kemudian mengakhirinya dengan membayar zakat fithrah dan merayakan hari kemenangan, `Idul Fithri. Kewajiban berpuasa ini dijalankan kaum muslimin setiap hari dari adzan subuh hingga datangnya maghrib, sampai 'Idul Fithri tiba. Pada malam 1 Syawwal dikumandangkan takbir secara serentak, tanda kemenangan kaum muslimin melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh. Lalu keesokan harinya, umat Islam melaksanakan shalat sunnah 'Idul Fithri. Keutamaan Tarawih Shalat Tarawih adalah shalat yang dikerjakan di malam hari setelah shalat Isya di bulan Ramadhan yang dapat dikerjakan secara sendiri-sendiri ataupun berjama'ah. Waktu pelaksanaannya adalah setelah pelaksanaan shalat Isya sampai sebelum terbit fajar subuh. Shalat Tarawih hukumnya sunnah muakkadah, sunnah yang diutamakan. Tidak hanya melakukan shalat Tarawih, pada malam-malam selama bulan Ramadhan sangat dianjurkan untuk melakukan shalat-shalat sunnah lainnya, juga melakukan segala kebaikan. Walaupun di bulan-bulan lainnya juga kita dianjurkan melakukan amal shalih, berbeda dengan bulan Ramadhan, karena selama bulan Ramadhan ini segala pahala kebaikan dilipatgandakan. Keistimewaan tailatul Qadar Lailatul Qadar adalah malam yang hanya ada di bulan Ramadhan. Malam itu, dikatakan dalam Al Quran pada surah Al-Qadr, lebih baik daripada seribu bulan. Saat pasti kapan malam itu tidak diketahui, namun, menurut beberapa riwayat, malam itu jatuh pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadhan, tepatnya pada salah satu malam ganjil, yakni malam ke21, 23, 25, 27, atau ke 29. Sebagian muslim berusaha tidak melewatkan malam itu dengan menjaga diri tetap terjaga pada malammalam terakhir Ramadhan sembari beribadah sepanjang malam. Gambaran tentang keistimewaan malam itu dapat dijumpai pada surah Al-Qadr, surah ke 97, dalam Al-Qur'an, yang antara lain menerangkan bahwa pada malam itu diturunkan AI-Qur'an dan para malaikat dan Jibril turun ke dunia untuk mengatur segala urusan. Allah Ta'ala berfirman, "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu." (QS. AI-Baqarah: 185). Ibnu Katsir Rahimahullah tatkala menafsirkan ayat itu mengatakan, "(Dalam ayat ini) Allah Ta'ala memuji bulan puasa (yaitu bulan Ramadhan) dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya AI-Qur'an dari bulan-buIan lainnya. Sebagaimana pula pada buIan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab Ilahiyah lainnya kepada para nabi 'alaihimus salam." Lalu bagaimana kita menyikapi pencarian malam Lailatul Qadar tersebut? Apakah harus menyepi ke dalam gua, atau berkhalwat di puncak-puncak gunung? Kita lihat bagaimana Rasulullah memberikan teladan ketika mengisi bulan suci Ramadhan, yang termaktub dalam hadist berikut, "Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW tatkala masuk malam kesepuluh (dari bulan Ramadhan) beliau bangun di waktu malam dan membangunkan istri beliau serta mengencangkan kainnya." (HR Al-Bukhari, Muslim). Maksud "mengencangkan kainnya" adalah memperbanyak ibadah. Bangunlah di kala keheningan malam, bermunajat ke hadirat Ilahi seraya meratapi dosa-dosa yang telah lalu,sambil berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan ber-i'tikaf di masjid. Insya Allah, dengan segala kerendahan hati kita meminta dan bermunajat kepada Allah, apa yang kita mohonkan dikabulkan. Tetapi terkadang tidak sedikit di antara kita yang awam terlalu disibukkan dengan mencari-cari rahasia apa yang terkandung pada malam Lailatul Qadar, seperti sibuk mencari dan menyelicliki keberadaannya, sibuk mengamati tanda-tandanya, sehingga meninggalkan ibadah. Betapa banyak orang yang lupa membaca AI-Qur'an, dzikir, dan mencari ilmu, karena terlalu sibuk mengamati tanda-tanda Lailatul Oadar. Menjelang matahari terbit, misalnya, terkadang kita dapati ada orang yang terlalu sibuk memperhatikan dan mengamati matahari, untuk mencari tahu apakah sinar matahari pagi itu terik ataukah tidak. Salah satu tanda Lailatul Qadar, sinar matahari tidak terik tapi tidak juga redup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar