ECHA JIE KOWDONG......BUKAN JIE SAPA2...

Kamis, 18 November 2010

Benih (Jangan Malu dengan Keterbatasan)

Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang. Dibawahnya, tampak dua
orang yang sedang beristirahat. Rupanya, ada seorang pedagang bersama
anaknya yang berteduh disana. Tampaknya mereka kelelahan sehabis
berdagang di kota. Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka
dibawah pohon yang besar itu.

Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian
dengan anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya..." terdengar
suara yang mengusik ambang sadar si pedagang. "Kapan aku besar, Ayah?
Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa dagangan kita ke kota?

"Sepertinya", lanjut sang bocah, "aku tak akan bisa besar. Tubuhku
ramping seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar.
Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap
seperti ini." Jari tangannya tampak mengores-gores sesuatu di atas tanah.
Lalu, ia kembali melanjutkan, "Bilakah aku bisa punya tubuh besar
sepertimu, Ayah?

Sang Ayah yang awalnya mengantuk, kini tampak siaga. Diambilnya sebuah
benih, di atas tanah yang sebelumnya di kais-kais oleh anaknya.
Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat
seperti kacang yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan
tangan pedagang yang besar-besar. Kemudian, ia pun mulai berbicara.

"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon
besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini,
dulu berasal dari benih yang sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya,
juga berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak
menonjol, juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini,
ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari
tempat yang sama.

Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah Nak,
benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh,
dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk
menjadi sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya
matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus
bertumbuh. Pada mereka semualah benih ini berterima kasih, karena telah
melatihnya menjadi mahluk yang sabar.

"Suatu saat nanti, kamu akan besar Nak. Jangan pernah takut untuk
berharap menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan
kesabaran."

Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri,
meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan
impian dalam benak. Tak lama berselang, keduanya pun terlelap dalam
tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.

~~~

Jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa
sedih dengan ketidaksempurnaan. Karena Allah, menciptakan kita penuh
dengan keistimewaan. Dan karena Allah, memang menyiapkan kita menjadi
mahluk dengan berbagai kelebihan.

Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tak mampu, tak berdaya
dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan
kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan
keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan,
bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?

Teman, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua
kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang
lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu
berasal. Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa
alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar
matahari?

Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil, dan
sukses, tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan? Akankah Allah lupa
mengingatkan kita dengan hembusan angin "masalah", derasnya air "ujian"
serta teriknya matahari "persoalan"? Tidak Teman. Karena Allah Maha Tahu,
bahwa setiap hamba-Nya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah
akan tak pernah lupa dengan itu semua.

Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah
ada dalam dirimu.

Senin, 08 November 2010

Bersikap apa adanya

Tanpa sadar banyak orang hidup dalam tekanan. Bukan karena
beban terlalu berat; atau kekuatan tak memadai. Namun, karena
tidak mau berterus terang. Hidup dalam kepura-puraan tak
memberikan kenyamanan. Bersikaplah apa adanya. Bila anda
kesulitan, jangan tolak bantuan. Sikap terus terang membuka
jalan bagi penerimaan orang lain. Persahabatan dan kerja sama
membutuhkan satu hal yang sama; yaitu keakraban di antara
orang-orang. Keakraban tercipta bila satu sama lain saling
menerima. Sedangkan penerimaan yang tulus hanya terujud dalam
kejujuran dan sikap terus terang.

Kepura-puraan itu bagaikan bunga mawar plastik dengan kelopak
dan warna sempurna, namun tak mewangi. Meski mawar asli tak
seindah tiruannya dan segera layu, kita tetap saja menyukainya.
Mengapa? Karena ada detak kehidupan alam di sana. Hidup dalam
kejujuran adalah hidup alami yang sejati. Hidup berpura-pura
sama saja membohongi hidup itu sendiri. Anda bisa memilih
untuk hidup apa adanya; dan berhak menginjakkan kaki di bumi
ini. Atau, hidup berpura-pura dalam dunia ilusi.

Berkat atau Kutuk

Karena itu banyak orang jawa yang memberi nama anak mereka "Slamet".
Apapun kejadiannya, Slamet masih bisa bersyukur dengan berucap, "selamet..selamet..".
:)

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin,

semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik.

Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah

di lihat begitu kemegahannya, keagungannya dan kekuatannya.

Orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi

orang tua itu selalu menolak, "Kuda ini bukan kuda bagi saya," ia

akan mengatakan. "Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat

menjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana kita

dapat menjual seorang sahabat."
Orang itu miskin dan godaan besar. Tetapi ia tetap tidak menjual kuda

itu.
Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya.

Seluruh desa datang menemuinya. "Orang tua bodoh," mereka mengejek

dia, "sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami

sudah peringatkan bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin. Mana

mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga?

Sebaiknya anda sudah menjualnya. Anda boleh minta harga apa saja.

Harga setinggi apapun akan di bayar juga. Sekarang kuda itu hilang

dan anda dikutuk oleh kemalangan."

Orang tua itu menjawab, "Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja

bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu;

selebihnya adalah penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak,

bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana Anda dapat menghakimi?"



Orang protes, "Jangan menggambarkan kita sebagai orang bodoh! Mungkin

kita bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di perlukan.

Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan."



Orang tua itu berbicara lagi, "Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang

itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu

kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan. Yang dapat kita lihat

hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti?"



Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka

memang selalu menganggap dia orang tolol; kalau tidak, ia akan

menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia

seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar

dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima

hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara

sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.



Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di curi, ia lari

ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar

selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul di

sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan, "Orang tua, kamu

benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat.

Maafkan kami."



Jawab orang itu, "Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja

bahwa kuda itu sudah balik. Katakan saja bahwa selusin kuda balik

bersama dia, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini

adalah berkat?

Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah

mengetahui seluruh cerita,bagaimana anda dapat menilai? Kalian hanya

membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai

seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan.

Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas,

namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu

kata. Yang anda tahu hanyalah sepotong!

Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah

puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang

saya tidak tahu."



"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu kepada yang

lain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati

mereka tahu bahwa ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas

kuda liar pulang bersama

satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan

dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.



Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai

menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh

dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa

berkumpul sekitar orang tua itu dan menilai.



"Kamu benar," kata mereka, "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar.

Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya

puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak

ada siapa-siapa untuk membantumu. Sekarang kamu lebih miskin lagi."



Orand tua itu berbicara lagi, "Ya, kalian kesetanan dengan pikiran

untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan.



Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau

kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita.

Hidup ini datang sepotong-sepotong."



Maka terjadilah 2 minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri

tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara.

Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia sedang terluka.

Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan

berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur.

Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan

perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka mungkin tidak akan melihat

anak-anak mereka kembali.



"Kamu benar, orang tua," mereka menangis, "Tuhan tahu kamu benar. Ini

membuktikannya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah,

tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk

selama-lamanya".



Orang tua itu berbicara lagi, "Tidak mungkin untuk berbicara dengan

kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu.

Katakan hanya ini: anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak

saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan. Tidak

ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Allah yang tahu."


Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian.

Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu

halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik

kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai

kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

Sabtu, 06 November 2010

pilihan sederhana

-- Bila dihadapkan pada pilihan, apakah anda memiliki untuk sehat, makmur, punya banyak teman, dan bahagia, ataukah anda memilih hidup miskin, sakit-sakitan, dibenci, dan sengsara…? Pilihan ini tentu gampang. Semua orang tentu akan mengambil pilihan pertama tanpa pikir panjang.

Tapi mengapa yang ada dalam pilihan pertama tidak seluruhnya hadir dalam kehidupan anda…? Adalah kenyataan, bahwa sebenarnya anda punya pilihan, tetapi tidak diberikan sekaligus seperti yang ada di awal tulisan ini. Pilihan itu melainkan diberikan secara bagian per bagian dalam setiap sisi kehidupan anda. Hari demi hari, saat demi saat - semua yang anda pilih dalam hidup sebenarnya adalah bagian dari pilihan di atas. Dan pilihan andalah yang menjadi kenyataan hidup anda.

Pilihan-pilihan sederhana yang anda buat, yang mungkin anda anggap sepele, akan membentuk jawaban besar. Pilihan-pilihan sederhana ini yang mempengaruhi hidup anda. Di sepanjang jalan kehidupan, anda akan terus berhadapan dengan pilihan-pilihan sederhana, untuk itu tetaplah fokus pada arah mana tujuan hidup anda bergulir. Buatlah pilihan yang tepat - sekalipun sederhana - karena hidup anda akan ditentukan oleh pilihan-pilihan yang anda buat…

B

Senin, 01 November 2010

27 tips Jalani Hidup.

1. Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.
2. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.
3. Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan,karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.
4. Janganlah terlalu mencintai akan sesuatu karena belum tentu yang dicintai itu terbaik buat kita, sebaliknya janganlah terlalu membenci akan sesuatu karena mungkin yang dibenci itu merupakan yang terbaik buat kita.
5. Akan lebih baik berlagak tidak mengerti pada apa yang dimengerti, daripada berlagak mengerti pada apa yang tidak dimengerti.
6. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup untuk membeli hadiah-hadiah.
7. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acapkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.
8. Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.
9. Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.
10. Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang itu pula.
11. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi.
12. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan.Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.
13. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.
14. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.
15. Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.
16. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.
17. Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika da masih tetap peduli padanya.
18. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya dan kamu harus melepaskannya.
19. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman dan berakhir dengan tetesan air mata.
20. Cinta datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya.
21. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi yang lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan cintamu kepadanya.
22. Memang sakit rasanya melihat orang yang kita cintai berbahagia dengan orang lain, tetapi akan lebih menyakitkan apabila orang yang kita cintai itu bersama kita tanpa kebahagiaan.
23. Masa depan yang cerah selalu tergantung kepada masa lalu yang dilupakan, kamu tidak dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.
24. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
25. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu! Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu.
26. Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.
27. Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang disekelilingmu tersenyum - jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang disekelilingmu menangis.