Kemarin aku nulis friend or foe di new status yahoo mesenger (YM)-ku. Eh, teman-teman yang sedang OL, ramai-ramai pada menyerbu YM-ku dengan pernyataan senada, penuh agitasi."I’m your foe!" komplit dengan simbol smiley yang berekspresi garang. iiiihhh…iki do ngopo to yooo? Wong kok do senengene iseng! Karena sebel, tak getak kabeh,"Iki do ngopo to yooo!" eh..trus pada rame2 ketawa dan kasi penjelasan. Mereka bilang,"Salahe new statusmu nantang friend or foe siy!" Ihh..sebel. Begitulah kantorku ini, penuh manusia2 ajaib bin iseng! Kalo mereka sedang kumat, ya begitu itu. (di kantor emang lagi ngetrend YM-an. anehnya lagi, meski meja kerjanya jejer, ngobrolnya tetap pake YM. Dasarrr!)
Padahal,aku ga bermaksud bertanya ke orang-orang yang sedang OL, apakah mereka termasuk friend or foe. Aku hanya menulis apa yg sedang kupikirkan saat itu, yaitu aku sedang memikirkan hidup ini kadang aneh. Ada kalanya ketika kita menganggap bahwa si A itu friend, eh ga taunya tak lebih dari seorang foe (musuh) yang penuh kedengkian dan kebencian terhadap setiap keberhasilan yang kita raih. Sebaliknya, ketika kita berpikir bahwa si B itu foe yang kudu dijauhi en dimusuhi, eh..ternyata dia malah lebih loyal dibandingkan teman kita sendiri ke kita, dia ikut mendukung semua langkah kita. Lucu sekali bukan?
Begitulah. Makanya, sebenarnya, aku lebih suka berteman dengan siapa aja, termasuk orang-orang yang selama ini dianggap sebagai "foe-nya masyarakat". Orang-orang yang menurut kriteria umum kudu dijauhi karena dikhawatirkan bisa menularkan pengaruh negatif. Benarkah? ah…tidak juga. Itu tergantung kepribadian kita kok. Kalo kepribadian kita kuat, ngga bakalan ketularan kok. Perumpamaannya gini lho sekalipun orang-orang di sekitar kita pada sakit flu, tp bila daya tahan tubuh kita bagus, kita ga mungkin ketularan, justru kita malah bisa membantu mereka sembuh. Gito. Makanya, aku rada2 ga setuju dengan ungkapan pilihlah lingkungan pergaulanmu. Menurutku, malah lebih bagus en bermakna idup kita bila kita bisa "membawa" teman-teman kita yang tersesat itu ke jalan yang benar. BEtul? Itu berarti dakwah kita berhasil bukan? Bukankah, dakwah yang paling efektif itu adalah dakwah yang terjun langsung ke masyarakat dan bukannya hanya berkoar-koar di mimbar?
Karena teman-temanku sangat beragam, tak heran bila inspirasi ceritaku tak pernah padam. Mereka ini makhluk-makhluk amazing menurutku. Ini ada sebuah kisah yg membuktikan bahwa jalinan perkoncoan itu penting banget dan kita jangan pilih-pilih temen! Sebab, kadang kita ga tau temen mana yang membawa rezeki ke kita. Jangan berteman hanya dengan orang-orang kaya atau berpangkat aja. Ibaratnya temenan dengan kalangan militer, maka kita harus kenal mulai dari jenderal sampai sersan dua (Serda). Top!
Suatu hari, aku dan teman-teman sabhara berniat pergi ke Yogyakarta naek Prameks. Tp, seperti kebanyakan anak muda lain, muncul niat iseng bin peng-pengan dari temen2 sabhara ini. Mereka ingin mencoba naek Prameks tanpa beli tiket. aku udah melarang, jangan seperti itu! Sekali pun kalian punya kartu anggota yang memungkinkan kalian bebas karcis, tapi kalo mampu beli karcis, sebaiknya tetaplah beli karcis. Tapi mereka ngeyel. Berhubung, kalah jumlah, maka aku pun kalah suara. Temen2 sabhara bilang,"Tenang aja, kita kan punya pistol!" padahal, dalam ati aku bilang apa hubungane pistol ama kereta coba? Tapi mereka ingin membuktikan bahwa pistol mereka lebih sakti dari apapun di dunia. Fine! Aku turuti.
Benar aja, pas kondektur memeriksa tiket, mereka ngga berhasil lolos sekali pun udah menunjukkan kartu anggota dan pistol mereka. Sebetulnya, aku malu banget. Suer. Makanya, aku tutupi mukaku pakai selembar koran. Tapi, lama-lama aku ngga tega meliat upaya mereka yang mati-matian merayu Pak Kondektur, maka aku pun menampakkan diri. Guess what happen? Betul, Pak Kondektur itu ternyata mengenali aku! Dan…hanya dengan sedikit basa-basi, akhirnya loloslah kami dari jeratan denda di kereta Prameks. Siaul..malunya itu…alamak! Setelahpak kondektur pergi, mereka pada minta maaf ke aku.."Aku isin byangeeettt!" begitu komentar senada mereka. "Mangsane aku ora isin? Wee lhaa..! Aku lebih malu lagi karena aku memanfaatkan hubungan pertemananku dan memanfaatkan kewartawananku! Makanya, next time, jgn suka memanfaatkan entah itu uang, jabatan, pangkat maupun jalinan pertemanan kalian hanya untuk keuntungan pribadi kalian! Ikuti aja prosedur!" begitu aku bilang ke mereka.
Yah…itulah sekelumit cerita betapa asyiknya punya jalinan pertemanan dimana-mana!! Kendati begitu, jangan suka memanfaatkan teman yaaa? Selagi mampu, usaha sendiri pakai tenaga dan pikiran kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar